|
UANG 1.000 DAN 100.000
Trust is like money; you spend it, you save it, you
lend it, and sometimes you get robbed.
( Kepercayaan itu seperti uang; Anda
memakainya, Anda menyimpannya, Anda meminjamkannya, dan
kadang-kadang Anda bisa kerampokan.)
= Abraham Lincoln =
Percakapan ini terjadi ketika uang
lembaran seribu rupiah bertemu dengan uang seratus ribu
rupiah disebuah dompet wanita, dan terjadilah percakan
seperti dibawah ini :
Uang Rp.1.000 : ”Hai.kawan kemana
saja sampeyan ini,, kok lama ga bertemu ?”
Uang Rp100.000 : ”Iya nih, gue
akhir-akhir ini sibuk banget jalan-jalan ke mall, keluar
ngeri, nonton bola di Jerman, ke kasino di Las Vegas,
Golf dan besok ini saya mau ke Swiss. Enak ’n adem di
ruang penyimpanan uang, disana ketemu sama teman-teman
dari luar negeri.” Eh, bagaimana dengan kamu, kan lama
kita tidak bertemu, kemana aja kamu selama ini ?”
Uang Rp 1000 : ”Yah, beginilah
kalau jadi orang kecil, kamu tahu sendirilah, aku
paling-paling ya sekitar tempat parkir dan gereja. Ya,
paling-paling kalau nggak ada di kantong tukang parkir
aku pasti ada di kantong persembahan gereja!”
Ada orang yang berkata,”Aku akan memberi
persembahan kepada Tuhan!” Namun, secara kaidah bahasa
Indonesia, kata’memberi’ tersebut agak janggal, karena
memberi umumnya diberlakukan dari pihak yang tinggi
kepada pihak yang lebih rendah/kurang. Kata yang paling
tepat adalah ’mempersembahkan’ karena kata ini berarti
memberikan sesuatu persembahan dari pihak yang lebih
rendah kepada pihak yang lebih tinggi. Jadi kalimat yang
cocok sebenarnya, ”AKU akan mempersembahkan sesuatu
kepada Tuhan !”
Di dalam persembahan itu menggandung
beberapa makna :
1.Persembahan sebagai bukti
ketaatan/ketundukan kita kepada Tuhan.
2.Persembahan sebagai bukti ucapan
syukur kita kepada Tuhan atas segala hal yang Tuhan
sudah berikan/limpahkan dalam kehidupan kita.
Manusia kadang melihat nilai
persembahan seseorang dari besarnya uang/barang/nilai
dari persembahan itu. Padahal Alkitab sendiri memberi
gambaran yang sangat jelas tentang persembahan, juga
Tuhan Yesus, ketika melihat seorang janda miskin yang
datng kebait suci untuk mempersembahkan persembahannya.
Dalam Injil Lukas 21:1-4, jelas sekali prinsip yang di
ajarkan oleh Tuhan Yesus.
Persembahan yang bernilai, bukanlah
berpa besar nilai dan persembahan itu, tetapi seberapa
tulus kita mempersembahkannya, seberapa besar rasa
syukur yang menyertainya, dan seberapa besar kita
beriman akan kasih dan pemeliharaan Tuhan didalam hidup
kita.
Bahkan Alkitab juga mengajarkan
tentang persembahan yang sejati, ”....aku menasehatkan
kamu, supayakamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan....” (Rom12:1)
Ketika kita mempersembahkan hidup
kita ke dalam tangan-Nya, berarti kita berserah total
kepada otoritas Tuhan, dan hidup kita ini bukan lagi
hidup kita sendiri, melainkan milik Tuhan, untuk dipakai
Tuhan sesuai dengan rencana—Nya. Itulah persembahan yang
sejati!
Baca juga :
|