|
HATI BAPA, AYAH YANG MENANTI
Sawat
telah merendahkan martabat keluarganya dan menjatuhkan
nama ayahnya. Ia datang ke Bangkok sebagai pelarian dari
kehidupan desa yang membosankan. Ia menemukan kegairahan
di sana, dan ketika ia sudah makmur dalam kehidupannya
yang mesum, ia juga mendapatkan popularitas.
Ketika untuk pertama kalinya ia datang, ia mengunjungi
sebuah hotel yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Setiap ruangan mempunyai sebuah jendela yang mengarah ke
koridor dan di setiap kamar duduk seorang gadis.
Gadis-gadis yang lebih tua terlihat tersenyum dan
tertawa. Yang lain, berusia 12 atau 13 tahun atau bahkan
lebih muda, tampak gelisah bahkan ketakutan.
itulah petualangan Sawat yang pertama di dunia pelacuran
Bangkok. Mulanya tanpa maksud apa-apa, tetapi ia segera
terjerat di dalamnya seperti sepotong kayu kecil yang
hanyut dalam arus sungai yang kencang. Arus itu terlalu
kuat baginya, terlalu kencang.
Tidak lama kemudian ia mulai menjual candu kepada para
pelanggan dan turis-turis yang terlibat pelacuran di
hotel-hotel. Ia jatuh begitu rendahnya sampai membantu
menjual dan membeli anak-anak gadis, beberapa di
antaranya baru berusia 9 dan 10 tahun. Hal itu adalah
pekerjaan mesum dan ia salah satu “pengusaha” muda yang
paling penting.
Tidak lama kemudian dunianya jatuh berantakan. Ia
tertimpa kesialan. Ia dirampok dan ketika ia berusaha
untuk naik kembali ke atas ia ditangkap. Di dunia hitam
tersiar berita bahwa ia adalah mata-mata polisi.
Akhirnya, ia terdampar di sebuah gubuk dekat pembuangan
sampah kota.
Ketika duduk di gubuk kecilnya, ia memikirkan
keluarganya, terutama ayahnya, seorang Kristen
sederhana dari sebuah desa kecil di selatan dekat
perbatsan Malaysia. Dia ingat kata-kata perpisahan
ayahnya:”Aku menantimu.” Apakah ayahnya masih
menunggunya setelah apa yang ia lakukan untuk
mempermalukan nama keluarga? Apakah ia akan disambut
dalam rumahnya? Berita tentang kehidupannya sudah lama
tersiar di desa.
Akhirnya ia membuat rencana. “Ayah yang kekasih,”
tulisnya. “Saya ingin pulang ke rumah, tetapi saya tidak
tahu apakah Ayah masih mau menerima saya setelah apa
yang saya perbuat. Saya sangat berdosa, Ayah. Ampunilah
saya. Sabtu malam nanti saya akan berada di kereta api
yang melewati desa kita. Jika Ayah masih mau menantikan
saya, apakah Ayah mau mengikatkan sehelai kain putih di
pohon po yang berada di depan rumah kita? (Tertanda)
Sawat.”
Dalam perjalanan dengan kereta itu ia merenungkan
kehidupannya yang berdosa. Ia tahu ayahnya berhak
sepenuhnya untuk menolaknya. Ketika kereta api akhirnya
mendekati desa, ia merasa sangat cemas. Apa yang ia
lakukan jika tidak ada kain putih di pohon po itu?
Di seberang Sawat duduk seorang asing yang ramah yang
memperhatikan betapa gelisahnya kawan seperjalanannya
itu. Akhirnya Sawat tidak kuat menahan tekanan hatinya
Kisahnya mengalir keluar dari mulutnya. Ia menceritakan
segala sesuatunya kepada orang asing itu. Ketika mereka
memasuki desa, Sawat berkata, “Oh, Tuan, saya tidak
sanggup melihat. Maukah Anda melihatnya untuk saya?
Bagaimana jika Ayah saya tidak mau menerima saya
kembali?”
Sawat membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
“Apakah Anda melihatnya, Tuan? Hanya ada satu rumah yang
mempunyai pohon po.”
“Anak muda, ayahmu bukan saja memasang sehelai kain
putih. Lihat! Ia telah menutupi seluruh pohon dengan
helaian kain-kain putih!” Sawat hampir tidak dapat
mempercayai matanya. Pohon itu ada di sana, penuh dengan
kain putih. Di halaman muka, ayahnya yang tua melompat –
lompat, sambil melambai – lambaikan sehelai kain putih
dengan penuh sukacita, lalu berlari – lari di samping
kereta. Ketika kereta berhenti di stasiun kecil, ia
merangkul putranya dengan air mata yang mengalir karena
sukacita. “ Aku selalu menunggumu! ” Serunya.
“ Kata ayahnya kepadanya : ‘ Anakku, engkau selalu
bersama – sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah
kepunyaanmu. kita patut bersukacita karena adikmu telah
mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan
didapat kembali.
( Luk. 15 : 31 – 32 )
Baca
renungan kristen lainnya :
|